Wednesday, 10 December 2014

KEBERADAAN DEWI PARWATI, DEWI UMA, DEWI DURGA, DAN DEWI KALI


1.      Pendahuluan
Agama Hindu memiliki beberapa konsep ke-Tuhanan yang unik. Diantaranya ada dua konsep yaitu, konsep Nirguna Brahman dan konsep Saguna Brahman. Nirguna Brahman adalah salah satu konsep yang menyebutkan bahwa Tuhan itu tanpa wujud, tidak bias dipikirkan sama sekali. Sedangkan Saguna Brahman adalah konsep yang menyebutkan bahwa Tuhan itu sudah memiliki bentuk kepribadian dan sudah bias masuk ke dalam akal pikiran manusia.Konsep Saguna Brahman inilah yang berkembang menjadi konsep polytheisme yang nantinya menjadi konsep dasar dari munculnya konsep Tri Murti yang sering diwujudkan kedalam wujud tiga pribadi Tuhan yang berbeda, yaitu Brahma, Visnu, dan Siva.Konsep Tri Murti tersebutlah yang berkembang menjadi konsep Deva-Devi dalam agama Hindu.
Kepercayaan umat Hindu terhadap keberadaan Tuhan, didasarkan kepada tiga hal, yaitu: berdasarkan petunjuk dari para Maha Rsi dan para Akhli atau tokoh Agama, berdasarkan kesimpulan dari suatu penilaian yang logis, dan berdasarkan langsung oleh para Maha Rsi atau orang-orang yang telah suci Karena diyakini bahwa Tuhan menurunkan wahyuNya kepada orang-oprang yang suci, baik itu dari pikiran, perkataan, maupun perbuatannya.

2.      Konsep Tuhan dalam agama Hindu
Sebelum meneruskan pembahasan tentang Keberadaan Devi Parwati, sangat penting kiranya untuk mengetahui suatu konsep tentang Tuhan dalam Hinduisme.Agama Hindu tidak bergantung dari sebuah kitab suci tunggal saja seperti yang dilakukan oleh agama besar lainnya di dunia ini.Namun keseluruhan tubuh dari kepustakaan filosofis menerima kitab-kitab Upanisad dan Bhagawad Gita sebagai sumber yang dapat dipercaya dan tidak bertentangan dengan ajarannya.
Tuhan dalam agama Hindu adalah sang pencipta segala apa yang ada. Kitab suci Hindu menggambarkan kemahatahuan Tuhan dan kemahakuasaan Tuhan.Tuhan merupakan perwujudan dari keadilan, kasih sayang, dan keindahan.Dalam kenyataannya, Tuhan merupakan perwujudan dari segala kualitas terberkati yang senantiasa dapat diterima oleh manusia.Konsep Tuhan memiliki dua gambaran yang khas, tergantung dari kebutuhan dan selera dari para pemujaNya. Beliau dapat dilihat dalam suatu wujud yang mereka sukai untuk pemujaan dan penggapaianNya melalui wujud tersebut. Kemudian ada aspek Tuhan yang lain sebagai konsep yang Mutlak, yang biasanya disebut sebagai Brahman, yang berarti besar tak terbatas. Dan Tuhan adalah ketakterbatasan itu sendiri.Telah dinyatakan bahwa untuk dapat menyatakan keberadaan Tuhan adalah dengan menyebut Tuhan itu “Bukan ini, bukan itu”.Pada sifat esensial Tuhan, beliau didefinisikan sebagai “Sat-Cit-Ananda” atau “keberadaan-kesadaran-kebahagiaan”.Ini merupakan dasar dari segala keberadaan, kesadaran, dan kebahagiaan.
Arti kata Brahman adalah doa, oleh sebab itu sloka-sloka dalam kitab suci Hindu disebut sebagai doa. Brahman kemudian diartikan sebagai obyek doa, Tuhan yang digambarkan sebagai realitas tanpa pribadi (Titib, 1999:51). Kemudian Brahman dikatakan berasal dari bahasa sanskrta dengan akar kata bhryang berarti memberi hidup, menumbuhkan, menjadikan hidup, menjadikan berkembang (Jendra, 2008:1). Sedangkan dalam kamus sanskrta-Indonesia (Surada, 2007:239) kata Brahman diartikan sebagai jiwa tertinggi, nyanyian, puji-pujian, kitab suci Veda, penebusan dosa, kesucian, kebahagiaan terakhir, ilmu keTuhanan, kekayaan, makanan, pencipta, matahari, dll.

3.      Sakti atau daya Tuhan sebagai Dewi
Alam semesta yang kita saksikan dan alami merupakan suatu berkas energy, baik yang terbungkus maupun tidak.Ini merupakan penemuan dariu ilmu pengetahuan modern, yang secara incidental  telah meruntuhkan perbedaan antara materi dan energy. Ada satu energy dasar dibalik segala wujud materi dan energy.Filsafat Hindu yang didasarkan pada Vedanta, lebih umum dikenal dengan istilah Tantra.Tantra merupakan batang tubuh yang luas dari literature keagamaan Hindu yang dibaktikan untuk mengemukakan kepercayaan terhadap Tuhan.Sumber dan pemelihara segala ciptaan, baik itu tingkat materi atupun kehidupan ataupun pikiran, adalah satu dan hanya satu adanya. Sakti Brahman dari Vedanta dan Sakti atau Devi dari Tantra adalah sama. Bila energy berada dalam keadaan statist tanpa evolusi maupun involusi, bila alam semesta diciptakan bahkan tidak dalam benih sekalipun, ia disebut Brahman. Bila ia mulai mengembang menjadi ciptaan ini, memeliharanya dan menyerapnya kembali kedalam dirinya sendiri, itu disebut sakti.
Dalam literature Mithologi Hindu seperti juga dalam kitab-kitab tantra, energy ini selalu digambarkan dalam wujud Devata perempuan, Devi, sebagai pendamping dari dewata pasangannya.Setiap anggota Tri Murti memiliki Sakti atau Devi sebagai pendampingnya.

4.      Dewi Parvati
Seperti apa yang sudah dijelaskan di atas, bahwa masing-masing dari Tri Murti memiliki Sakti atau Daya yang mendampingiNya. Sehingga ketika menyebut namaParvatipikiran kita tidak dapat terlepas dari bayangan Siva, sebab Parvati disini adalah Daya dan pendamping dari Deva Siva, Deva pemusnahan dan Deva Pemecahan.
Mayoritas dari para Devi Hinduisme merupakan aspek dan ragam dari Parvati.Nama yang dikenal dan dipuja sangat banyak untuk diketengahkan disini. Bila beberapa namaseperti Parvati, Haimavati Girija, dan Daksayani menyatakan asal mulanya dari Himalaya atau Daksa (salah satu nenek moyang umat manusia). Nama lain seperti Siva, Mrdani, Rudrani, dan Sarvani menekankan aspek sebagai pendamping dari Deva Siva. Namun yang lainnya seperti Aparna dan Uma memiliki referensi khusus pada cerita tertentu dalam Purana.
Walaupun seluruh devata perempuan disebut dengan sakti dari pasangan laki-lakinya, kata sakti dan devi bersifat lebih khusus bahkan bias disebut lebih eksklusif. Yang digunakan untuk menyatakan sakti Siva, aspek Parvati tak terhitung banyaknya.Dengan menganggap Siva sebagai Mahadeva, Tuhan tertinggi, Parvati menyatakan dayanya sebagai pencipta, pemelihara, dan penghancuran alam semesta.Himalaya menyatakan Akasa atau ether, substansi mendasar pertama.Mena menyatakan kecerdasan.Karena itu Parvati sebagai keturunannya menyatakan substansi kesadaran dari alam semesta.Itulah sebabnya dia juga disebut Uma (sinar yang cemerlang).Pada tingkat subyektif, Uma-Haimavati menyatakan Brahma Vidya atau kebijaksanaan spiritual, untuk mencapai penyatuan dengan Siva.

4.1  Uma
Sakti Deva Siva diberi nama sesui dengan perwujudannya yang ganda, yaitu berwujud “santa” atau tenang, dan bersifat “raudra” atau “krodha”. Ketika dalam wujud santa, sakti Deva Siva ini disebut dengan Parvati, yaitu seorang devi dengan penuh kecantikan dan kasih sayang. Selain disebut dengan Parvati, juga disebut dengan Devi Uma atau dewi Kedamaian.Didalam kitab Purana disebutkan Devi Parvati pada penjelmaan pertamanya adalah Daksayani, yaitu putri dari Daksa dan Prasuti dan menikah dengan Siva.Karena tidak mampu memahami keagungan Siva, Daksa memakinya dan mulai membencinya.Ketika Daksa melakukan suatu upacara Kurban Agung, salah satu tamu yang tak diundang adalah Siva. Sangat bertentangan dengan saran pasangannya, Daksayani pergi ke tempat upacara tanpa diundang dan mengakhiri hidupnya dengan membakar diri dalam api yoga. Oleh sebab itu, kemudian ia dikenal dengan sebutan Sati yang tak berdosa. Berikutnya dia terlahir kembali menjadi Parvati, putri dari Himawan dan Mena.Setelah melakukan tapa yang mendalam, dia mampu menyenangkan Siva dan membuat Siva dapat menerimanya kembali sebagai pendampingnya.
Selama Parvati melakukan pertapaan, dia menolak untuk makan dan minum, walaup daun kering sekalipun. Sehingga dia memperoleh penampakan Aparna Ibunya Mena yang tidak tega menyaksikan putri kesayangannya menderita dalam melakukan tapa, dan berusaha mencegahnya dengan kata-kata “Uma, sayangku janganlah berbuat seperti ini” yang kemudian nama Uma menjadi nama lainnya.
Seperti pendamping Siva, Parvati juga memiliki dua aspek yang berbeda, yaitu aspek lemah lembut, penyayang, dan berparas cantik, serta satu aspek lain adalah aspek menakutkan dan mengerikan. Sebagai Parvati atau Uma dia dinyatakan dengan aspek yang lemah lembut, penyayang, penuh cinta kasih. Dimana dalam aspek ini, dia selalu bersama dengan Siva. Kemudian dalam aspek ini dia memiliki dua tangan, yang kanan memegang teratai biru, dan yang kiri menggantung bebas disebelahnya. Bila dinyatakan secara mandiri (Parvati Tunggal/tanpa Siva), dia tampak dengan empat tangan, dua tangan memegang taratai merah dan biru, sedangkan dua tangan yang lain memegang Varada dan Abhaya Mudra.

4.2  Durga
Durga merupakan aspek sakti yang paling banyak dipuja. Arti kata Durga yang sebenarnya adalah “sulit didekati atau sulit dikenal”. Menjadi personifikasi dari keseluruhan kekuasaan para Deva, Dia wajar sulit didekati atau dikenali. Namun sebagai Ibu Alam Semesta, dia merupakan perwujudan dari kasih sayang dan kelemahlembutan, bila dimohonkan.
Aspek Durga yang dinyatakan dalam kitab-kitab Purana dan agama adalah pasukannya saja, seperti Sailaputri, Kusmanda, Katyayani, Ksemankari, Harasiddhih, Vanadurga, Vindhavasini, Jayadurga, dan lainya. Mereka akan lebih menarik dalam ikonografi dan pada para pemohon yang dapat memperoleh jenis keinginan lain terpenuhi oleh pemujaan aspek yang berbeda-beda.
Patung-patung Durga dapat memiliki empat/ delapan/ sepuluh/ delapan belas/ duapuluh tangan. Matanya biasanya tiga, rambutnya dibentuk menyerupai mahkota (Karandamukuta), dia secara indah diberikan pakaian merah dan beberapa hiasan. Beberapa benda-benda yang dipegangnya, yang lebih umum adalah: kulit kerang, cakra, trisula, busur, anak panah, pedang, belati, tameng, genitri, mangkuk anggur, dan genta. Dia digambarkan berdiri pada sebuah bunga Padma atau kepada kerbau atau menunggangi seekor singa. Singa sebagai raja rimba merupakan simbolik ciptaan binatang terbaik, dia juga menggambarkan keserakahan terhadap makanan, sehingga ketamakan terhadap obyek-obyek kenikmatan yang tak terhindarkan membawa pada nafsu.
Mahisasuramardini adalah Devata yang mengambil wujud sebagai hasil dari pengumpulan kekuatan-kekuatan semua Deva yang ditindas oleh Raksasa Mahisasura. Brahma, Visnu, dan Siva marah mendengar ulah perbuatan jahat dari Mahisasura, dan dan sang Devi lahir dari kemurkaan mereka, yang diikuti oleh kemurkaan para Devata lain yang lebih rendah. Kekutan dari para Deva membentuk anggota badan dan penggandaan yang tepat dari senjata-senjata dan dengan menunggangi seekor singa yang mengerikan, Mahisasuramardini menantang Mahisasura dan menghancurkannya bersama dengan pasukannya.Dia merupakan kekuatan misterius yang mana seluruh alam semesta diresapi dan dihidupkannya.Dia merupakan perwujudan dari kekayaan, kekuasaan, keindahan, dan juga kebajikan.Dia merupakan pengejawantahan dari yadnya, paravidya, dan aparavidya.
Ketika para Deva diserang oleh raksasa Sumbha dan Nisumbha, mereka kembali memohon kepada sang Devi, dengan pujian Aparajitastotra memujinya sebagai tak tertaklukkan imanensinya pada segala makhluk hidup merupakan tema dari pujian-pujian ini. Dalam menanggapi doa tersebut, sang Devi berwujud sebagai Kausiki Durga yang muncul dari badan Parvati, dan dia sendiri menjadi Kali, yang gelap  setelah manifestasi ini. kecantikan Durga yang mempesona dunia menarik perhatian Sumbha dan Nisumbha, yang mengirim usulan pernikahan melalui seorang budak. Namun mereka tidak berdaya saat “kelemahan dan kebodohan” dia telah bersumpah untuk menikahi mereka yang mampu mengalahkannya dalam perang.
Durga memiliki tiga manifestasi yang utama, yaitu: Mahakali, Mahalaksmi, danMahasaraswati. Mahakali memiliki sepuluh muka dan sepuluh kaki.Dia berwarna biru tua, ibarat permata Nilamani. Di kesepuluh tangannya menyandang sepuluh senjata, yaitu: pedang, cakra, gada, anak panah, busur, pemukul besi, tombak, ketapel, kepala manusia dan kulit kerang. Sebagai personifikasi aspek tamasika dari sang Devi, dia juga Yoganidra, yang telah membuat Visnu tertidur. Kepadanyalah Brahma memohon untuk meninggalkan Visnu sehingga dapat memusnahkan Raksasa Madu dan Kaitabha. Mahalaksmi merupakan aspek rakasika dari sang Devi. Beliau dilukiskan dengan warna merah seperti batu karang.Pada kedelapan belas tangannya memegang genitri, periuk-perang, gada, trisula, tombak, pedang, tameng, kulit kerang, genta, mangkuk anggur, jerat dan cakra sudarsana. Beliaulah yang menghancurkan Raksasa Mahisasura. Mahasaraswati adalah devata ketiga yang menyatakan aspek satvika dari sang devi. Dia cemerlang bagaikan bulan di musim gugur dan memiliki delapan tangan, yang masing-masing memegang genta, trisula, mata bajak, kulit kerang, alu, cakra, busur dan anak panah.Dialah yang merupakan lapisan fisik dari Parvati, sehingga dikenal sebagai Kausiki Durga. Dia merupakan simbol kesempurnaan dan keindahan fisik. Dia merupakan kekuatan dari kerja, aturan, dan organisasi.

4.3  Kali
Dari semua bentuk patheon Hindu, mungkin Devi Kali yang paling aneh jika dipandang melalui pandangan modern. Siapa yang tidak ketakutan dan merasa mual melihat bentuk wanita gelap yang telanjang yang mengenakan celemek tangan-tangan manusia dan untaian kepala manusia, khususnya juga saat dia memegang kepala manusia yang baru saja dipotong dan pemotong yang digunakan membantai masih berlumuran darah.Semua ceritanya membuat bingung para pembaca ataupun pendengar, terlebih ketika semua itu tidak selaras dengan kelembutan dan kesopanannya sendiri.
Kata Kali berasal dari kata yang tidak asing ditelinga masyarakat, khususnya masyarakat Hindu di Bali, yaitu Kala atau waktu. Dia adalah daya dari waktu, waktu yang kita semua mengenalinya dengan baik adalah pemusnah segalanya. Itulah sebabnya Tuhan bersabda dalam Bhagadgita XI. 32:
“Aku adalah waktu yang maha perkasa untuk menghancurkan dunia yang sekarang ini terlibat dalam memusnahkannya, walaupun tanpa engkau semua angkatan perang yang ditempatkan pada barisan yang memusuhimu tak akan hidup”.
Penggambaran Kali pada umumnya dijumpai dalam kitab-kitab suci, gambar-gambar, dan patung, latar belakangnya adalah wilayah kremasi atau tempat pembakaran mayat atau medan perang yang menunjukkan tubuh-tubuh mati termasuk yang dirusak. Dia berdiri dengan sikap menantang pada badan mati yang merupakan pendampingnya sendiri, yaitu Siva.Bila Siva berwarna putih tulus, dia berwarna biru tua yang berbatasan dengan kegelapan.Dia sepenuhnya telanjang, kecuali pada celemek tangan-tangan manusia. Dia menggunakan untaian empatpuluh tengkorak kepala manusia.Rambutnya yang lebat sepenuhnya kusut awut-awutan.Dia memiliki tiga buah mata dan empat lengan. Pada tangan atas, dia memegang potongan kepala manusia yang masih mengeluarkan darah segar, demikian juga pedang yang digunakan untuk memotongnya. Dua tangan bawah bersikat abhaya dan Varada Mudra.Mukanya merah dan lidahnya menjulur keluar.
Latar belakang atau situasinya sangat selaras dengan temanya. Potongan kepala dan pedang merupakan pernyataan grafis tentang penghancuran yang sedang berlangsung.Tuhan dikatakan telah menciptakan alam semesta dan kemudian memasukinya.Dengan demikian alam semesta ini menjadi sebuah tabir, selubung bagi ketuhanan itu. Bila itu dimusnahkan, maka ketuhanan itu akan tetap terbuka. Itulah makna Kali yang talanjang sehingga dia diistilahkan sebagai Digambara yang artinya berpakaian ruang.Menggunakan ruang angkasa yang tak terbatas sebagai pakaiannya.

4.4  Lalita
Aspek lain dari dewi Parvati yang secara luas dipuja di India Selatan adalah Lalita Tripurasundari. Pengulangan Lalitasahasranama dan Trisati yang terkenal, seperti halnya pemujaan lanbangnya sebagai “Sricakra” sangatlah popular.Bila Durga dan Kali menyatakan daya aspek kekuasaan dari para Devi, Lalita menyatakan aspek keindahannya.Oleh sebab itu wujudnya digambarkan sebagai sangat cantik dan pemujaannya lebih lembut.
Menurut Lalitopakhyana dari Barhmanda Purana, Lalita Deavi mewujudkan dirinya ditengah-tengah jentera yang sangat cemerlang, yang muncul dari lubang upacara kurban, ketika Indra melakukan upacara kurban dalam menghormatinya. Atas perintah para deva yang berkumpul disana, ia memilih untuk menikahi Kamesvara (Siva). Dia memusnahkan raksasa Bandasura dan melenyapkan kotanya, Sonitapura. Visvakarma, yaitu arsiteknya para Deva membangun sebuah kota Sripura yang indah pada pegunungan Himalaya, demi untuknya, dimana dia bersama-sama dengan Pasangannya Siva Kamesvara menempati kota tersebut secara abadi.
Bhandasura, raksasa yang tidak tahu malu, yang tinggal di Sonitapura, kota darah dan daging, sebenarnya adalah ego yang membuat sang roh menyamakan dirinya dengan badanmenjauhkannya dengan Tuhan. Ketiika Sang Devi yang merupakan kekuasaan dan berkah Tuhan membunuhnya, dia sebenarnya membebaskannya dari pembatasan yang melilitnya. Lalita digambarkan dengan warna agak merah (seperti warna fajar) dan luar biasa cantik.Pada keempat tangannya dia memegang busur dari tebu, anak panah, kait gajah (ankusa) dan jerat (Pasa). Kadang-kadang dia tampak memegang mangkuk anggur yang terbuat dari intan.Salah satu kakinya yaitu yang kiri terlihat santai pada pedestal (alas patung) yang juga dari intan.Busur yang terbuat dari batang tebu sebenarnya menyatakan pikiran.Melalui pikiranlah sebenarnya kita mengalami segala kegembiraan.

4.5  Aspek-aspek lain Parvati
4.5.1        Sapta-mtrka
Menurut Durgasaptasati salah satu naskah dasar dari kepercayaan ibu, ketika Kausikidurga berperang dengan raksasa Raktabija yang darahnya bila menetes akan mengeluarkan raksasa yang sama dengan dirinya. Maka dari diri Kausikidurga, dia menciptakan tujuh emanasi. Tujuh emanasi inilah yang disebut dengan Sapta Mtrka(tujuh ibu kecil).Mereka itu adalah Brahmi, Mahesvari, Kaumari, Vaisnavi, Varahi, Narasimhi, dan Aindri.Nama itu merupakan sakti dari Brahma, Isvara, Kumara, Visnu, Varaha, Narasimha, dan Indra.Karena itu, mereka memiliki wujud senjata sesuai dengan pasangannya.

4.5.2        Dasamahavidya
Sepuluh aspek sakti kadang digambarkan dalam karya-karya tantric. Mereka diistilahkan dengan Dasamahavidya yang merupakan pernyataan dari pengetahuan dan kekuasaan, mengatasi sebagai sumber dari segalanya yang dikenal. Pertama adalah Kali, yaitu devi yang memusnahkan segalanya. Kedua adalah Tara, kekuasaan dari janin keemasan (Hiranyagarbha), dia juga menyatakan kekosongan atau ruang tak terbatas.Yang ketiga adalah Sodasi, personifikasi kesempurnaan. Yang keempat Bhuvanesvari, menyatakan kekuatan dunia material, yang kelima Bhairavi, menyatakan keinginan dan cobaan yang mengantar pada pemusnahan dan kematian, yang keenam Chinnamasta, devata telanjang yang membawa kepalanya sendiri yang terpotongditangannya dan meminum darahnya sendiri. Dia menyatakan keadaan berlanjut menghidupi diri dari dunia yang tercipta dimana terlihat penghancurandiri dan pembaharuandiri terus-menerus. Yang ketujuh Dhumavati, yang melambangkan penghancuran dunia oleh api, manakala hanya asap (Dhuma) dari abunya yang tertinggal, terkadang dia disamakan dengan Alaksmiatau Jyesthadevi. Vidya kedelapan adalah Bagala yaitu devi berkepala burung bangau, dan menyatakan sisi burung dari makhluk hidup seperti kecemburuan, kebencian, dan kekejaman. Yang kesembilan Matangi, yaitu perwujudan dari kekuasaan dominasi, dan yang terakhir adalah Kamala yaitu kesadaran murni dari sang diri. Dia disamakan dengan Laksmi, devi penganugerah.

4.5.3        Annapurna
Annapurna merupakan pemilik dan pemberi makanan. Parvati mendapat nama tersebut karena dia selalu menyediakan makanan bagi Siva ketika ia berkelana sebagai seorang pengemis. Dia terlihat menyiapkan makanan pada wadah yang dari batu permata. Pemujaannya memastikan bahwa kepala rumah tangga tidak akan pernah kekurangan makanan.

4.5.4        Aparajita
Apajita adalah Salah satu nama Durga dan serangkaian sloka terkenal dalam candi berakhir dengan kata-kata “namas tasyai” disebut Aparajitastotra.

4.5.5        Bala
Bala merupakan anak-anak yang dianggap sebagai putri Lalita dan selalu berumur Sembilan tahun, dia dikatakan telah memusnahkan tigapuluh putra Bhandasura.

4.5.6        Bhadrakali
Bhadrakali adalah salah satu dari beberapa aspek Mahakali.Dia muncul dari kemarahan Uma, ketika Dhaksa menghina Siva dan berperang bersama dengan Virabhadra untuk menghancurkan upacara kurban Daksa.

4.5.7        Bhutamata
Bhutamata merupakan Ibu dari para setan.Dia tinggal dibawah pohon Asvatta dan memiliki pengiring sejumlah setan, raksasa, dan makhluk setengah deva.

4.5.8        Camunda
Aspek Camunda samadengan Kali, dia mendapatkan nama ini karena telah membunuh Canda dan Munda dalam perang melawan Sumbha dan Nisumbha. Terkadang dia dimasukkan ke dalam Saptamatrka.

4.5.9        Gayatri, Savitri, dan Sarasvati
Ketiga Devi ini menyatakan tiga aspek devata yang menjiwai mantram gayatri terkenal yang diucapkan tiga kali sehari. Gayatri merupakan devata yang menjiwai doa di pagi hari, mengatur rgveda dan api Gharapatya. Dia memiliki empat wajah, empat/sepuluh lengan dan menunggangi seekor angsa. Savitri menjiwai doa tengah hari, mengatur yajurveda dan api daksina. Dia memiliki empat wajah, duabelas mata, empat lengan dan mengendarai seekor lembu jantan. Saraswati adalah devata yang menjiwai doa malam hari, mengatur samaveda dan api Ahavaniya. Dia memiliki satu wajah dan empat lengan serta mengendarai burung garuda.

4.5.10    Indraksi
Indraksi adalah devata yang matanya mirip dengan mata Indra. Dia merupakan aspek devi yang khusus dipuja oleh Indra seperti halnya wanita Apsara (gadis-gadis surgawi). Dia banyak dihias dan memegang Vajrayuda. Bila dia disenangkan dengan puji-pujian, dia bahkan bias menyembuhkan penyakit yang taktersembuhkan.

4.5.11    Jagad-dhatri
Devi ini adalah aspek lain dari sang devi yang lebih umum dipuja di Bengala. Dia disebut “yang memelihara dunia”, dia memiliki empat lengan yang membawa kulit kerang, cakra, busur dan anak panah serta mengendarai seekor singa.

4.5.12    Kamesvari
Kamesvari adalah aspek devi sebagai penguasa keinginan. Karena Siva memusnahkan Kama, Deva Asmara, dia dikenal sebagai Kamesvara, yang merupakan penguasa nafsu atau keinginan.Devi yang menjadi pendampingnya bernama Kamesvan. Dia sebenarnya merupakan  nama lain dari Lalita. Dia dapat memenuhi keinguinan yang dimohonkan kepadanya.

4.5.13    Katyayani
Karena devi terdahulu pernah terlahir sebagai putri dari seorang Rsi yang bernama Kata, dia dikenal sebagai Katyayani. Dia sepenuhn ya merupakan daya kekuatan dari Tru Murti Hindu. Uraian tentangnya praktis sesuai dengan cerita Durga sebagai Mahisasura-Mardini.

4.5.14    Manonmani
Manonmani disebut sebagai dia yang meningkatkan pikiran pada keadaan yoga tertinggi.Dia merupakan sakti yang mantap pada pusat psikhis pada puncak kepala, dibawah Brahma-randhra. Dia digambarkan berwarna biru atau hitam kulitnya dan membawa sebuah mangkuk, tengkorak kepala, dan juga sebuah pedang, bila dia bias disenangkan dengan doa pujian dari para Bhaktanya, dia dapat memberkahi kekayaan dan menakuti musuh-musuhnya.

4.5.15    Rajarajesvari
Rajarajesvari adalah dia yang menjadi pengatur rajadiraja. Aspek Devi ini bahkan menguasai Brahma, Visnu, dan Mahesvara seperti halnya Kubera (penguasa kekayaan) yang dikenal sebagai rajadiraja.Dia merupakan aspek dari Lalita.

4.5.16    Sivaduti
Dalam peperangan melawan Sumbha dan Nisumbha, sang devi mengirim pasangannya sendiri yaitu Siva sebagai duta kepada mereka. Karena itu, dia dikenal sebagai Sivaduti yang menjadikan Siva sendiri sebagai seorang duta. Dia kadang-kadang terlihat seperti Kali dan terkadang terlihat seperti Durga.

5.      Kaitan Parvati dengan Ngereh dan Rangda di Bali
Jika kita kaitkan antara keberadaan Devi Parvati dengan ritual ngereh dan keberadaan Rangda di Bali, maka kita bias arahkan pikiran kita pada aspek Devi Parvati dalam wujud beliau sebagai Durga. Dalam masyarakat Bali dikenal ada istilah Petapakan.Petapakan adalah topeng dalam wujud sosok makhluk magis yang meyeramkan, terbuat dari kayu tertentu, dibentuk sedemikian rupa sebagai simbol unsur niskala (tidak nampak) dari adanya Ida Betara Rangda.Ketakson berasal dari kata taksu mendapat awalan ke dan akhiran an sehingga menjadi kata ketaksuan dan orang Bali lebih mudah mengucapkan dengan kata ketakson yang artinya kesaktian dari proses sakralisasi. Panungrahan artinya pemberian dari Dewa
Petapakan Ida Betara Rangda itu, diyakini tidak saja mampu mengusir gerubug (wabah penyakit) yang pada musim-musim tertentu datang mengancam penduduk Bali, namun juga diyakini dapat mengayomi masyarakat sehingga merasa tenang dan aman dari ancaman niskala itu.Rasa aman semacam itu menjadi penting, meskipun masyarakat Bali telah menjadi masyarakat modern dan berpendidikan tinggi. Aktualisasi dari rasa aman dari ancaman niskala ini adalah di setiap desa, atau Pura mesti ada Petapakan Ida Betara, sebagai tanda atau kendaraan adanya Ida Betara Rangda, yang jika dipahami dengan baik adalah sisi lain dari kepercayaan akan kemahakuasaan Siwa. Dalam kaitan dengan dunia mistik Hindu Bali, pemujaan terhadap Siwa dilakukan dengan banyak cara, namun terfokus pada Durga sebagai saktinya Siwa. Di bagian-bagian tertentu negeri India, mungkin Siwa tidak sepopuler di Bali, mungkin Wisnu yang lembut dan kebaikannya tidak diragukan lebih popular, atau mungkin Krisna atau Rama. Menarik diteliti mengapa Siwa dalam manifestasinya sebagai Dewa Pralina yang bertugas menghancurkan itu justru lebih popular daripada Wisnu atau Brahma yang lembut.
Dalam kisah cerita Calonarang diungkapkan, setelah Raja Airlangga memutuskan untuk menyerang kediaman Calonarang Janda Girah, maka janda penekun ilmu hitam ini mengajak murid-muridnya ke kuburan untuk menghadap Dewi Durga. Untuk itu, janda dari Girah itu harus menyiapkan sarana dan prosesi menyambut kedatangan Dewi Durga. Setelah sarana upacara dan prosesi pemujaan berlangsung, muncullah Dewi Durga dalam wujud yang menyeramkan, mulut menganga, taring mencuat dan saling bergesekan, rambut mengombak, membentangkan kain selendang pada susu, penuh hiasan, letak kedua kakinya miring, memakai kain setengah badan, matanya membelalak bagaikan matahari kembar, terus menerus mengeluarkan api, kemudian dengan suara berteriak menanyakan apa tujuan walu ing girah (janda dari girah atau Girah) menghadap.
Citra perwatakan Dewi Durga yang demikian seram itu, kelak muncul dalam rangda yang sesungguhnya merupakan hasil ciptaan para seniman Bali.Entah siapa yang menjadi pelopor, tampaknya seniman pertama yang menciptakan.Sosok rangda di Bali tidak dikenal, sosok rangda muncul di sejumlah desa di Bali sebagai wujud aktualisasi rasa magis masyarakat Bali. Kelahirannya itu, agaknya tidak sekedar melewati proses penciptaan yang biasa, mesti mengacu pada petunjuk mitos atau lontar tertentu. Lontar-lontar (daun pohon lontar yang berisi aksara suci) itu memberi petunjuk mengenai sah tidaknya sebuah petapakan untuk mendapatkan anugrah ketakson.Sementara itu, mitos-mitos yang diciptakan berfungsi untuk menambah bobot magis petapakan tersebut.Cerita-cerita mengenai makhluk-makhluk magis yang seram disampaikan oleh mitos-mitos itu, dipahami oleh penduduk Hindu Bali sebagai ancaman niskala pada kehidupan sehari-hari, jika petunjuk-petunjuknya tidak dipenuhi.Dalam mitos-mitos itu, selalu disebutkan bahwa makhluk-makhluk magis itu menyebarkan wabah penyakit pada musim-musim tertentu.Tidak heran, bila kemudian penduduk Bali merasa takut terhadap ancaman wabah penyakit itu, lalu seniman sakral Bali menciptakan mitos baru yang merupakan perwujudan dari sosok makhluk-makhluk magis itu.Salah satu ciptaan itu adalah Petapakan Ida Betara Rangda.
Puncak harmonisasi antara makhluk - makhluk mitologis itu dengan penduduk Hindu Bali adalah saling memberi kekuatan atau kesaktian, maka prosesi ngereh merupakan bukti adanya kesadaran mistik itu.Petapakan yang mendapatkan ketakson, merupakan bentuk presentasi dari kesadaran mistik Hindu Bali tersebut.Agar petapakan itu dapat menjalankan fungsinya sebagai penangkal ancaman niskala-mistik itu, disamping dapat mengayomi penduduk dari ancaman niskala itu, maka petapakan itu harus sakti, memiliki taksu, dan agar sakti harus melalui proses sakralisasi. Sakralisasi ini sudah mulai dijalankan pada saat mencari kayu yang akan dijadikan bahan petapakan itu. Umumnya, kayu yang digunakan bahan petapakan, adalah jenis kayu yang dipercaya memiliki kekuatan magis, antara kayu pule, kapuh (rangdu), jaran, kapas, waruh teluh, dan kepah. Masing-masing jenis kayu ini ternyata memiliki mitologinya sendiri, yang narasinya berusaha menggambarkan keunikan dan kemagisan kayu-kayu tersebut.Sakralisasi juga tampak pada hari baik yang harus dipilih saat mulai mengerjakan petapakan itu, yang disebut hari kilang-kilung menurut kalender Bali. Sakralisasi ini masih harus dijalankan dalam beberapa tahapan, antara lain tahapan pasupati, ngatep, mintonin dan akhirnya ngerehang.
Apa sesungguhnya ngereh itu? Beberapa lontar memang ada memberi petunjuk mengenai ngereh, antara lain lontar Canting Mas dan Sewer Mas Widi Sastra, Ganapati Tattwa dan lontar Pengerehan. Lontar-lontar tersebut ternyata memberi penjelasan mengenai ngereh dalam perspektif  yang luas sehingga ada kesan bahwa ngereh hanyalah prosesi mistik yang sangat rahasia, sebab dilakukan di kuburan pada tengah malam, adalah pengertian yang sempit.Meskipun demikian, pengertian ngereh yang sempit inilah yang hidup dalam benak masyarakat Hindu Bali.
Ngereh sebagai prosesi ritual-mistik di kuburan dan dilakukan pada tengah malam adalah tahapan akhir dari proses sakralisasi Petapakan Ida Betara Rangda. Untuk hal pertama, setelah Petapakan dipasupati oleh seorang pendeta (orang suci), maka diadakan ritual ngereh untuk mendapatkan Sakti Panca Durga (lima kesaktian Durga). Apapun istilah yang digunakan untuk menyebut kedatangan roh atau kekuatan sakti itu, yang jelas proses ritual-mistik inilah yang unik dan sangat rahasia. Kerahasiaannya, antara lain dapat dilihat dari tidak banyaknya penduduk yang terlibat dalam prosesi ritual-mistik itu, bagi yang ingin melihat harus dari jarak tertentu, sehingga pengalaman mistik pelaku ngereh adalah pengalaman sedikit orang yaitu orang yang bisa hidup di alam supranatural Bali.
Ngereh biasanya berhubungan dengan Upacara Sakral berupa : Pasupati, Ngatep dan Mintonin. Ngereh artinya memusatkan pikiran, dengan mengucapkan mantra dalam hati, sesuai dengan tujuan yang bersangkutan.Pasupati artinya kekuatan dari Dewa Siwa.Ngatep artinya mempertemukan dan Mintonin adalah bahasa Jawa Kuna yang artinya menampakkan diri.
Dalam prosesi Ngereh Petapakan Ida Betara Rangda diperlukan tiga tingkatan upakara seperti ; Prayascita dan Mlaspas, Ngatep dan Pasupati, Masuci dan Ngerehin.
Pengertian ketiga tingkatan upacara sakralisasi proses Ngereh Petapakan Betara Rangda diatas adalah sebagai berikut : Tingkat Prayacitta dan Melaspas. Tujuan dari upacara ini adalah untuk menghapuskan noda baik yang bersifat sekala maupun niskala yang ada pada kayu dan benda lain yang digunakan untuk pembuatan Petapakan Betara Rangda. Noda ini dapat saja ditimbulkan oleh sangging (seni ukir) ataupun bahan itu sendiri.Dengan Upacara Prayascitta diharapkan kayu atau bahan itu menjadi bersih dan suci serta siap untuk diberikan kekuatan. Upakara tersebut dihaturkan kehadapan Sang Hyang Surya, Sang Hyang Siwa dan Sang Hyang Sapujagat.
Ngatep dan Pasupati dapat dilakukan oleh Pemangku (orang suci) dan Sangging (seni ukir). Dengan upacara ini terjadilah proses Utpeti (kelahiran) terhadap Petapakan Betara Rangda. Mulai saat itu dapat difungsikan sebagai personifikasi dari roh atau kekuatan gaib yang diharapkan oleh penyungsungnya (Pemujanya).Tingkat Masuci dan Ngrehin, merupakan tingkat upacara yang terakhir dengan maksud Betara Rangda menjadi suci, keramat dan tidak ada yang ngeletehin (menodai).Tujuan upacara adalah untuk memasukkan kekuatan gaib dari Tuhan.Dengan demikian diharapkan Petapakan Betara Rangda mampu menjadi pelindung yang aktif.Upacara ini biasanya dilakukan pada dua tempat yaitu di pura dan di kuburan.Apabila dilakukan di kuburan yang dianggap tenget (angker), maka diperlukan tiga tengkorak manusia yang berfungsi sebagai alas duduk bagi yang memundut (mengusung).Begitu pula bila dilakukan di pura maka tengkorak manusia dapat diganti dengan kelapa gading muda.Upacara ini biasanya dilakukan pada tengah malam terutama pada hari-hari keramat seperti hari kajeng kliwon menurut kalender Bali.Sebagai puncak keberhasilan upacara ini adalah adanya kontak dari alam gaib yaitu berupa seberkas sinar yang jatuh tepat pada pemundutnya (pengusungnya). Si pemundut (pengusung) yang kemasukan sinar itu akan dibuat kesurupan (trance) dan pada saat itu pula si pemundutnya (pengusungnya) menari-nari. Kejadian lain yang menandakan upacara ini berhasil adalah apabila Petapakan Betara Rangda bergoyang tanpa ada yang menyentuhnya.
Jadi ritual Ngereh itu adalah peristiwa kesurupan, yang sengaja dibuat karena untuk membuktikan bahwa “topeng” yang diupacarai sudah memiliki kekuatan gaib untuk keselamatan masyarakat penyungsungnya (Pemujanya).
Tempat pelaksanaan ngereh biasanya di tengah-tengah setra (kuburan) pada hari tilem (gelap) dan hari keramat di malam hari. Jam pelaksanaannya sekitar jam dua puluh tiga yang diawali dengan matur piuning (Pemujaan), ngaturang caru (menghaturkan sesajen yang ditaruh diatas tanah ) dan nyambleh kucit butuhan (memotong babi jantan yang masih muda).
Orang yang ditugaskan ngereh duduk berhadapan dengan Petapakan Ida Betara Randa.Lidah Petapakan Ida Betara Rangda dilipat ke atas kepalanya.Diantara orang yang ngereh dengan Petapakan Ida Betara Rangda itu ditempatkan upakara, yang pokok adalah getih temelung (darah dari babi jantan) yang ditaruh pada takir (daun pisang).Pengereh bersemedi, sedangkan rekan-rekannya yang lain berjaga-jaga di sekitar setra (kuburan). Malampun bertambah larut .suasana magis mulai terasa ditambah desiran angin semilir membuat bulu kuduk berdiri.
Untuk menjadi Pengereh diperlukan kesiapan mental, keberanian dan kebersihan pikiran dan badan serta yang paling penting adalah lascarya (pasrah, tulus, ikhlas). Tidak boleh sesumbar atau menambah serta melengkapi diri dengan kekuatan-kekuatan lainnya seperti : sesabukan (Jimat kesaktian). Adanya benda-benda asing di luar kekuatan asli yang berada di badan akan mengganggu masuknya kekuatan Ida Bhatara.
Keberhasilan ngerehditandai dengan adanya gulungan api, atau tiga bola api yang datang menghampiri kemudian masuk ke petapakan Ida Betara Rangda. Jika sudah masuk ke Petapakan Ida Betara Rangda, ditandai dengan menjulurnya lidah Petapakan Ida Betara Rangda yang semula diatas kepalanya kemudian turun berjuntai mengarah ke takir (daun pisang ) yang berisi getih temelung (darah babi jantan) dan menyedotnya sampai habis, selanjutnya si pengereh akan kerauhan (trance) kemudian masuk ke Petapakan Ida Betara Rangda dan ngelur (berteriak) menggelegar; akhirnya tangkil (datang) ke Pura Dalem, permisi lanjut menuju pura tempat peyogan (persemadian) Ida Betara Durga.
Dalam ngerehang pun memanggil Panca Dhurga untuk mengisi kekuatan rangda. Untuk upacaranya perlu dibuatkan segehan agung (sesajen besar yang ditaruh di atas tanah) beserta perangkatnya yang sesuai dengan lontar pengerehan.Adapun yang dimaksud dengan Sakti Panca Durga adalah lima macam kekuatan Durga yaitu : KalaDurga, Durga Suksemi, Sri Durga, Sri Dewi Durga, dan Sri Aji Durga. Lima macam kekuatan Durga inilah yang menguasai ilmu arah mata angin di dunia niskala (tidak nampak) dan bisa menimbulkan kemakmuran bagi umat manusia maupun bencana apa bila dilanggar batas-batas wilayahnya.
Sedangkan ngerehang rangda sesuai dengan Lontar Pengerehan, Kanda Pat, bahwa ngerehang rangda mempunyai kekhususan sendiri. Sebab ini berhubungan dengan sifat magis yang dimiliki oleh rangda itu sendiri, karena rangda merupakan simbol rajas (emosi) yang penuh dengan nafsu untuk menguasai.Dalam lontar Calonarang, rangda artinya janda yang memiliki nafsu tak terbendung atau kemarahan yang tak tertahankan karena dendam. Rangda sendiri merupakan sifat manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya sehingga menyebabkan gejolak dalam diri kita sebagai manusia.
Rangda pengerehan dilaksanakan di setra (kuburan), karena setra (kuburan) merupakan tempat pemujaan terhadap Dewa Bhairawi yaitu Dewa kuburan dalam lontar Bhairawa Tatwa, yang merupakan wujud dari Dewi Durga.Dalam mitologinya, disini Dewa Siwa berubah wujud untuk menemui saktinya Dewi Durga berupa rangda sehingga muncullah beberapa kekuatan yang menyeramkan untuk menguasai dunia. Inilah alasannya kenapa setra (kuburan) dipakai sebagai tempat ngerehang rangda. Karena penuh dengan kekuatan black magik. Sehingga dalam ngerehang rangda, kalau sudah mencapai puncaknya ia akan hidup. Setelah hidup rangda akan memanggil anak-anak buahnya berupa leak (setan) atau makhluk halus lainnya.


DAFTAR PUSTAKA



Suhardana, Drs. K. M. 2011. BRAHMAN. Paramita: Surabaya.

Maswinara, I Wayan. 2007. DEWA-DEWI HINDU. Paramita: Surabaya

Titib, I Made. TEOLOGI DAN SIMBOL-SIMBOL DALAM AGAMA HINDU. Paramita: Surabaya

Debroy, Bibek. 2001. SIVA PURANA. Paramita: Surabaya

Debroy, Bibek. 2001. LINGA PURANA. Paramita: Surabaya

Pudja Ma. SH, G. 2003. BHAGAWADGITA (Pancama Weda). Pustaka Mitra Jaya: Jakarta

Wirasuyasa, S.Si, Apt, Komang Gde. 2009. ALUR SEBUAH DIALOG HATI. Paramita: Surabaya

Sumber internet :



Friday, 28 November 2014

MEMBUKA WORKSHEET EXCEL YANG TER-PASSWORD


Salam jumpa kembali.

pada kesempatan kali ini, saya coba share kepada para sahabat yang bermasalah ketika mencoba mengedit suatu file berekstensi *.xls atau akrab disebut dengan file excel. pada Microsoft excel disediakan suatu sistem protection (keamanan) yang memungkinkan para pembuat atau penulis untuk memberikan password agar file yang dia kerjakan tidak dapat diedit atau diubah oleh sembarangan orang. namun sering kali kita memerlukan untuk kita ubah sedikit. atau bisa jadi kita yang memberikan passwordnya tapi kita lupa password yang kita pasang pada file excel tersebut. langsung saja berikut ini saya share langkah-langkahnya.

1. Buka file excel yang terproteksi tersebut
2. File excel yang terproteksi, dapat diidentifikasi dari tampilan Review'nya, disana tertuliskan unprotect sheet
3. saudara tekan keyboard dengan kombinasi tombol Alt + F11, maka akan muncul microsoft visual basic
4. pada tab menu, klik insert lalu pilih module
5. dengan demikian akan muncul kotak dialog module seperti dibawah ini
6. sekarang saudara tinggal copy kode dibawah ini seluruhnya dari Sub InternalPasswords() sampai dengan End Sub dan paste kan di dalam kotak dialog module.

Sub InternalPasswords()

Dim i As Integer, j As Integer, k As Integer
Dim l As Integer, m As Integer, n As Integer
Dim i1 As Integer, i2 As Integer, i3 As Integer
Dim i4 As Integer, i5 As Integer, i6 As Integer

On Error Resume Next

For i = 65 To 66: For j = 65 To 66: For k = 65 To 66
For l = 65 To 66: For m = 65 To 66: For i1 = 65 To 66
For i2 = 65 To 66: For i3 = 65 To 66: For i4 = 65 To 66
For i5 = 65 To 66: For i6 = 65 To 66: For n = 32 To 126

ActiveWorkbook.Unprotect Chr(i) & Chr(j) & Chr(k) & _
Chr(l) & Chr(m) & Chr(i1) & Chr(i2) & Chr(i3) _
& Chr(i4) & Chr(i5) & Chr(i6) & Chr(n)

ActiveSheet.Unprotect Chr(i) & Chr(j) & Chr(k) & _
Chr(l) & Chr(m) & Chr(i1) & Chr(i2) & Chr(i3) _
& Chr(i4) & Chr(i5) & Chr(i6) & Chr(n)

If ActiveWorkbook.ProtectStructure = False Then

If ActiveWorkbook.ProtectWindows = False Then

If ActiveSheet.ProtectContents = False Then

Exit Sub

End If

End If

End If

Next: Next: Next: Next: Next: Next
Next: Next: Next: Next: Next: Next

End Sub


7. setelah di paste, maka saudara langsung saja klik tab menu tools lalu klik macros
8. kotak macros segera muncul dan klik run, tunggu beberapa saat sampai proses loading selesai,, biasanya memakan waktu yang cukup panjang juga.
9. apabila proses selesai saudara tinggal tekan F5 atau Ctrl + F5 atau apalah settingan kompter saudara untuk me refresh komputer,, setelah itu tutup microsoft visual basic atau dengan langkah Alt + F11 untuk kembali menampilkan file Excel yang terproteksi tadi,, dan saudara bisa lihat hasilnya.. 
selamat mencoba

Tuesday, 25 November 2014

ScreenShot


Untuk mengambil gambar atau suatu tampilan dekstop diperlukan suatu aplikasi yang berfungsi untuk merekam apa saja yang sedang ditampilkan. salah satu cara yang dapat digunakan yaitu dengan menekan tombol PrintScrn/SysRq pada keyboard komputer. namun cara ini biasanya menampilkan seluruh tampilan dekstop, lalu menyimpannya pada suatu folder tertentu. untuk mengambil sebagian kecil gambar dekstop, anda harus mengeditnya dulu dan melakukan Cropping agar bisa mengambil gambar yang dinginkan. maka dari itu dibutuhkan aplikasi yang secara praktis mengambil gambar yang dinginkan tanpa melakukan Cropping terlebih dahulu. maka digunakan sebuah aplikasi untuk mengambil sutau tampilan, yang bernama Greenshot. Aplikasi Greenshot bisa saudara Download disini.

Langkah pertama yang saudara ambil adalah mendownload installer greenshotnya pada link diatas. kemudian instal file tersebut, ikuti perintah yang tampil. ketika selesai penginstalan, untuk menggunakan aplikasi ini, saudara cukup menekan tombol PrintScrn/SysRq pada keyboard, maka akan muncul dragbox greenshotnya, anda tinggal mengarahkan dan men-drag screen yang ingin anda simpan. Screen siap anda pakai tanpa cropping.

Font for PC

Om Swastyastu Salam Sejahtera

Berbagai macam font untuk mempercantik model tulisan atau ketikan dapat menambah daya tarik tersendiri bagi pemakai. jenis tulisan yang menarik juga banyak digunakan untuk membuat berbagai model desain, poster, iklan, ajakan, dll. berikut saya share beberapa jenis font untuk sudara download dan instal di Kompuer saudara.

download Font


dan untuk "kumpulan font keren" bisa saudara Download Disini.

semoga bermanfaat....!!!

Friday, 21 November 2014

Padewasaan Wuku Masyarakat Bali

   Agama hindu khususnya hindu di Bali tidak akan dapat terlepas dari wariga, sebab masyarakat beraktifitas selalu memperhitungkan hari baik maupun buruk, itu disebut dengan istilah padewasaan oleh masyarakat Bali.
   Wuku dalam perhitungan padewasaan memegang peranan penting . Masing­-masing wuku umurnya tujuh hari dari hari Minggu sampai dengan Sabtu. Adanya Wuku kiranya juga merupakan simbolis dari benda­benda alam diruang angkasa namun dalam pustaka­ pustaka Hindu khususnya lontar Medangkemulan dimitoskan melalui cerita Watugunung.

Penjelasan Mengenai Wuku dalam Padewasaan dapat di download disini

Monday, 27 October 2014

EPOS MAHABHARATA

Kisah Mahabharata adalah salah satu cerita Hindu yang berasal dari Negara India. Kisah Mahabharata ini melahirkan Kitab Bhagawad Gita dimana kitab Bhagawad Gita merupakan isi Percakapan Sri Krishna kepada Arjuna sebelum Bharatayuda (Perang Bharata) dimulai.Kisah Mahabharata ini bisa saudara dapatkan pada link berikut.

Download Mahabharata pdf.

Tuesday, 3 September 2013

Padmasana Agung Pura Jagatnatha Singaraja



PADMASANA AGUNG PURA JAGATNATHA SINGARAJA
Oleh:
Gede Nova Heri Pratama


1.                Latar Belakang Pembangunan Pelinggih Padmasana Agung Pura Jagatnatha Singaraja

Pembangunan Pelinggih Padmasana Agung Pura Jagatnatha Singaraja tidak akan bisa terlepas dari sejarah atau latar belakang dibangunnya Pura Jagatnatha Singaraja, sebab bangunan Padmasana merupakan inti dari keberadaan sebuah pura yang dibangun. Akan terdapat banyak persamaan latar belakang pembangunan Padmasana Agung Pura Jagatnatha dan pembangunan Pura Agung Jagatnatha Singaraja. Padmasana Agung Pura Jagatnatha merupakan pelinggih yang berada di areal Pura Jagatnatha, yaitu Uttamaning Uttama Mandala (Purana Lan Awig-Awig Pura Agung Jagatnatha, 1996). Menurut penuturan narasumber Jero Mangku Gde I Wayan Suyasa yang berdasarkan atas Purana Pura Agung Jagatnatha Singaraja bahwa pembangunan pura Jagarnatha ini berawal dari Pesamuan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) pusat bersama dengan para sulinggih se-Bali yang bertempat di Denpasar pada tahun 1970, yang memutuskan bahwa di setiap Kabupaten agar didirikan Pura Jagatnatha sebagai parhyangan jagat Kabupaten sesuai dengan konsep Tri Hita Karana. Tujuannya yaitu untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan umat Hindu serta meningkatkan Sradha dan bhakti umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Selain itu disebutkan juga dalam lontar Sundari Gama yang berisi pewarah-warah Hyang Widhi kepada Purohita atau Bhagawanta (orang suci) agar menyampaikan pesan Hyang Widhi kepada pemegang kekuasaan tertinggi agar melaksanakan widhi widhana pada hari-hari suci, maupun pada hari raya bersama-sama dengan bawahannya dan uamat sedharma demi terwujudnya kesejahteraan jagat raya dengan segala isinya.
Hasil keputusan PHDI pusat ditindaklanjuti oleh Gubernur propinsi Bali Ida Bagus Mantra berupa surat edaran kepada para Bupati se-Bali agar mewujudkan hasil pesamuan tersebut dengan membangun pura Jagarnatha di Ibukota masing-masing Kabupaten. Ketut Ginantra yang menjabat sebagai Bupati Buleleng menindaklanjuti surat edaran Gubernur Bali, yang selanjutnya mengundang manggala PHDI Kabupaten Buleleng, Kepala Kantor Agama Kabupaten Buleleng, Kasi Bimas Hindu Budha, Instansi Pemerintah terkait, para Camat se-Kabupaten Buleleng, dan Desa Adat Buleleng dalam pesamuan yang dilaksanakan oleh Bupati tanggal 4 Mei 1989 di Wantilan Praja Winangun Kantor Bupati Buleleng. Dalam pesamuan tersebut memutuskan untuk membangun pura Jagatnatha dan selanjutnya dibentuklah panitia pembangunan dengan ketua umumnya  Sekwilda. Kabupaten Buleleng Ida Bagus Indugosa.
Pada awalnya, pembangunan pura Jagatnatha direncanakan di SKKA (sekarang lokasi Gedung Laksi Graha) dengan pertimbangan dekat dengan pusat pemerintahan Kabupaten Buleleng, namun lokasi tersebut kurang tepat sebagai tempat suci karena bersebelahan dengan makam Pahlawan Surastana. Kemudian dicari tempat lain yakni Lapangan Kolonel Wisnu di lokasi Pura Jagatnatha sekarang berada. Dasar pertimbangan dipilihnya lokasi tersebut adalah lokasi tersebut sesuai dengan dengan Aji Kalpa Sastra dan Aji Silpa Sastra (Purana Lan Awig-Awig Pura Jagatnatha Singaraja), yaitu: lokasinya lapang dan luas, dekat dengan perempatan sebagai simbol Catuspata, dekat dengan Toya mumbul (mata air), dan menurut orang suci tanah tersebut memiliki bau atau aroma yang wangi.
Padmasana Agung Pura Jagatnatha Singaraja merupakan sthana Hyang Widhi dalam manifestasiNya sebagai Siwa Jagatnatha. Diambil dari kitab Astadasaparva dalam Itihasa Mahabharata, bangunan Padmasana merupakan inti dari sebuah pura, dimana dalam pura yang dibangun wajib memiliki bangunan yang disebut dengan Padmasana, begitu juga didalam Pura Jagatnatha Singaraja, bangunan yang berdiri megah disebelah timur Utama mandala, disebut Padmasana Agung merupakan bangunan yang menjadi inti dari Pura Jagatnatha Singaraja.

2.                Struktur Bangunan Padmasana Agung Pura Jagatnatha Singaraja
Berdasarkan identifikasi oleh Jero Mangku Alitan Wayan Sugiartha pada bagian dasar atau tepas Padmasana Agung pura Jagatnatha, terdapat ukiran atau bentuk kura-kura/empas yang disebut dengan bedawangnala yang dibelit oleh seekor naga, yaitu: Naga Basuki. Naga tersebut membelit antara empas dan dasar bangunan. Kemudian pada bagian dasar/tepas ini terdapat ukiran berbentuk bunga teratai dan karang gajah (asti). Diatas Naga Basuki terdapat ukiran naga berwarna hitam yang disebut Naga Anantabhoga. Dan bagian puncak seharusnya terdapat ukiran Naga Taksaka, namun yang terdapat dalam Padmasana Agung Pura Jagatnatha tidak memakai Naga Taksaka melainkan hanya memakai bentuk kursi atau singhasana, yang pada bagian dinding belakang singhasana terdapat ukiran Acintya yang merupakan lambang Ida Sang Hyang Widhi.
Pada bagian badan atau tengah bangunan padmasana terdapat berupa ragam hias berupa pepalihan, karang goak, simbar, karang asti/gajah, dan burung garuda. Pada bagian atas atau sari terdapat singhasana seperti kursi yang terbuat dari paras yang di ukir sesuai dengan bentuknya. Pada bagian belakang terdapat ulon yang bagian tengahnya terdapat ukiran lukisan Sang Hyang Açintya atau Sang Hyang Taya sebagai simbol Sang Hyang Widhi. Lukisan tersebut menggambarkan tarian dewa Çiwa, yaitu Çivanataraja dalam menciptakan alam semesta.
3.                Makna Masing-Masing Simbol dari Bangunan Padmasana Agung Pura Jagatnatha
         Singaraja

Seperti apa yang sudah dijelaskan diatas, bangunan padmasana terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian dasar, tengah dan bagian puncak. Berikut akan diuraikan makna simbolis yang terkandung dari masing-masing simbol pada bagian-bagian padmasana tersebut.
a.              Bedawangnala
Didalam karya arsitektur bahwa bedawang dilukiskan sebagai penyu atau kura-kura/empas raksasa yang menyemburkan api di bagian kepalanya. Kata Nala berasal dari bahasa sansekerta anala yang berarti api. Didalam lontar Adiparva, Brahmanda purana, dan Agastya Parva bedawangnala dilukiskan sebagai bedawang api yang berkepala kuda.
Dalam bangunan Padmasana Agung Pura Jagatnatha Singaraja, Bedawangnala dilukiskan dengan kura-kura yang dibelit oleh seekor naga, yaitu naga Basuki. Bedawangnala dalam bangunan Padmasana Agung Pura Jagatnatha Singaraja merupakan penggambaran pemutaran gunung Mandaragiri. Hal tersebut dapat terlihat pada Purana Pura Agung Jagatnatha Singaraja yang berbunyi
Indik wawangunan ring uttama mandala inggih punika: 1. Wangunan Padmasana Agung sane tegeh nyane plekutus meter (astadasaparva) linggih sang Hyang Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa, maka prabhawan Ida Sang Hyang Widhi Wasa Ngamel kerahajengan Jagat (Jagatnatha). Wangunan padmasana puniki kasengker antuk tembok panyengker kajangkepin antuk pamedal nyatur maka prabhawan ida Sang Hyang widhi makadi pangider Bhuwana (astadikpalaka, utawi asta dewata). Punika sami kasinahang ring bucun dasar babaturan padmasana  miwah pamedak nyatur desa sane makweh ipun akutus. Pamedal punika kajangkepin antuk kreteg anggen ngaranjing ke uttamaning uttama mandala, saantukan babaturan punika kaiterin antuk talaga (nganutin tattwa girimandara prawartana)”.
Bedawangnala dalam bahasa jawa kuna, berasal dari kata “Bheda” yang artinya lain, kelompok, selisih. Wang artinya peluang atau kesempatan, dan nala artinya api. Jadi bhedawangnala adalah suatu kelompok yang meluangkan adanya api. Api yang dimaksud disini bisa berarti yang sebenarnya, yaitu sebagai magma inti bumi, dapat juga diartikan sebagai makna simbolis yaitu energi kekuatan hidup. Karena letaknya dibawah bangunan, maka bhedawangnala dapat bermakna sebagai kekuatan bumi ciptaan Hyang Widhi yang perlu utnuk dijaga, dan dapat pula bermakna sebagai dasar kehidupan manusia, yaitu energi yang senantiasa perlu ditumbuh kembangkan.
b.             Naga
Pada Padmasana Agung Pura Jagatnatha Singaraja, naga terlihat membelit kura-kura (bedawangnala). Berdasarkan narasumber Jero mangku alitan Wayan Sugiartha, naga tersebut adalah naga Basuki. Yang merupakan symbol tanah yang melapisi panas bumi.
Didalam mitologi Çivagama demikian pula dalam Çri Purana Tattwa disebutkan bahwa setelah bumi diciptakan oleh Bhatari Uma dan Dewa Siva, lengkap dengan isinya, maka suatu ketika terjadilah bencana, tumbuhan tidak menjadi, air tidak berkhasiat, serta udara menimbulkan penyakit, maka berbelaskasihanlah Sang Hyang Trumurti sehingga beliau turun ke dunia untuk membantu manusia dari penderitaan tersebut. Setelah didunia, masuklah Dewa Brahma ke dalam tanah mengambil wujud Sang Hyang Anantabhoga, Dewa Visnu terjun ke air dan jadilah beliau sebagai Sang Hyang Naga Basuki, dan Dewa Iswara (Çiwa) melayang diudara menjadi Naga Taksaka.
Mengambil makna kias dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa bedawangnala atau magma itu dibungkus oleh tanah/kulit bumi (naga Anantabhoga, oleh naga Basuki (samudra dan sungai-sungainya), dan dilindungi oleh naga Taksaka (lapisan Udara/atmosfer). Jadi, magma, tanah, air, dan udara itu dilukiskan dengan bedawangnala dan naga yang menjadi satu kesatuan. Di atas bumi dan atmosfer inilah baru adanya kehidupan dan para dewa bertahta, ada yang kiblat timur, utara, selatan dan barat, inilah yang dilukiskan dengan Caturlokapala, lukisan segi empat atau singhasana pada bagian atas Padmasana, dan di puncaknya adalah Ida Sang Hyang widhi Wasa.
c.              Burung Garuda
Garuda dalam posisi terbang di belakang Padmasana Agung Pura Jagatnatha Singaraja merupakan simbol manusia yang menginginkan kebebasan melalui pelespasan ikatan duniawi. Garuda adalah simbol dari pembebasan terhadap perbudakan benda-benda duniawi. Didalam lontar Adi Parva yang menceritakan tentang usaha sang garuda untuk membantu ibunya Sang Winata yang menjadi budak sang Kadru untuk menjaga dan mengantarkan anak-anaknya sebanyak seribu ular, karena sang Winata kalah taruhan melawan sang Kadru menebak rupa warna kuda Ucchaisrawa. Untuk membebaskan perbudakan tersebut, maka garuda diminta untuk mencari tirta amrta di surge untuk anak-anak ular tersebut. Dewa Visnu memberikan tirta tersebut asalkan garuda bersedia menjadi kendaraan Dewa Visnu. Garuda menyetujui dan membawa tirta tersebut kepada anak-anak ular.
d.             Ukiran Açintya
Keterbatasan pikiran manusia dalam menjangkau Tuhan, menjadikan atau menimbulkan upaya atau usaha manusia untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya kepada sang pencipta. Berbagai hal dilakukan untuk membawa pikiran agar terfokus dan mam,pu membayangkan keberadaan Tuhan. Seperti misalnya menggunakan gambar sebagai media, menggambarkan wujud Tuhan ibarat seperti wujud manusia yang lengkap dengan atribut-atributNya.
Keberadaan tuhan yang tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia itu disebut dengan istilah Nirgunabrahman yang artinya keberadaan Tuhan tanpa wujud tidak dapat dibayangkan dan dijangkau sama sekali oleh pikiran manusia, dalam keadaan seperti itu, Tuhan bersifat hampa atau kosong sedangkan yang memenuhi segalanya adalah esensi ketuhanan. Untuk membawa Tuhan masuk ke dalam pikiran manusia (Sagunabrhaman) maka dibuatlah simbol berupa gambar atau bentuk patung. Gambaran Tuhan yang tidak terjangkau sama sekali oleh pikiran manusia itu disimbolkan dengan Acintya, a berarti tidak, dan cintya berarti pikiran. Maka Acintya adalah keberadaan Tuhan yang tidak dapat dipikirkan.

Pada bangunan Padmasana Agung Pura Jagatnatha, yaitu tepat pada puncak bangunan di bagian Singhasana terdapat lukisan Acintya, lukisan itu merupakan simbol dari keberadaan Tuhan yang utama, tanpa bisa dibayangkan sama sekali. Maka, simbol Acintya tersebut adalah simbolis dari Tuhan/ Sang Hyang Widhi yang menjadi sumber segalanya dan menempati tempat paling utama/tinggi.
e.              Hiasan dan Ornament Lainnya pada Padmasana Agung Pura Jagatnatha Singaraja

Pada bangunan Padmasana Agung Pura Jagatnatha Singaraja, terdapat beberapa hiasan-hiasan yang melengkapi bangunan suci tersebut. Namun bukan berarti hiasan dan ornament yang terdapat pada bangunan suci Padmasana itu hanya berfungsi sebagai penambah daya Tarik atau sebagai daya hias saja, melainkan juga menyimpan makna. Segala bentuk hiasan, seperti Karang gajah/Asti, Karang goak, Simbar, dan yang lainnya itu melukiskan keaneka ragamanan kehidupan yang ada di dunia ini. Ketika dunia ini diciptakan lengkap dengan isinya, maka Tuhan lebih melengkapinya dengan segala pernak pernik yang ada. Mulai dari kehidupan tumbuhan, binatang, manusia, segala bhuta dan bhuti, termasuk pula para Dewa yang merupakan manifestasi Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa.