Rabu, 13 Februari 2013

Dharma Gita di Bali


 
Ajaran agama Hindu dibangun dalam tiga kerangka dasar, yaitu tattwa, susila, dan upakara. Ketiganya adalah satu kesatuan integral yang tak terpisahkan serta mendasari tindak keagamaan umat Hindu. Tattwa adalah aspek pengetahuan agama atau ajaran-ajaran agama yang harus dimengerti dan dipahami oleh masyarakat terhadap aktivitas keagamaan yang dilaksanakan. Susila adalah aspek pembentukan sikap keagamaan yang menuju pada sikap dan perilaku yang baik sehingga manusia memiliki kebajikan dan kebijaksanaan, wiweka jnana.Sementara itu aspek acara adalah tata cara pelaksanaan ajaran agama yang diwujudkan dalam tradisi upacara sebagai wujud simbolis komunikasi manusia dengan Tuhannya. Upakara adalah wujud bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widdhi Wasa dan seluruh manifestasi-Nya. Pada dasarnya upakara dibagi menjadi dua, yaitu upacara dan upakara. Upacara berkaitan dengan tata cara ritual, seperti tata cara sembahyang, hari-hari suci keagamaan (wariga), dan rangkaian upacara (eed). Sebaliknya, upakara adalah sarana yang dipersembahkan dalam upacara keagamaan.

Dalam fenomena keberagamaan Hindu di Bali, upakara tampaknya lebih menonjol dibandingkan dengan aspek lainnya. Upakara yang seringkali juga disebut upacara atau ritual keagamaan merupakan pengejawantahan dan tattwa dan susila agama Hindu. Acaraagama meliputi keseluruhan dari aspek persembahan dan bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang disebut yadnya. Pada dasarnya yadnya dalam agama Hindu dapat dibagi menjadi dua, yakni nitya karma dan naimittika karma. Nitya yadnya adalahyadnya yang dilaksanakan sehari-hari, misalnya yadnya sesa atau mesaiban. Sebaliknya,naimittika yadnya adalah yadnya yang dilaksanakan secara berkala atau pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada saat piodalan, rerahinan, dan hari raya keagamaan Hindu lainnya (Tim, 2005). Akan tetapi sejauh ini masih banyak pihak yang meragukan bahwa upakarayang tampak dominan di Bali, adalah bertentangan dengan isi kitab suci Weda. Oleh karena itu dalam makalah ini akan diuraikan tentang upakara Hindu yang pelaksanannya terformulasikan dalam bentuk Panca Mahayadnya.

Dharmagita merupakan Nyanyian keagamaan yang mengandung nilai kebenaran. Dharmagita memiliki peranan yang sangat penting dalam upacara keagamaan maupun dalam kehidupan sehari-hari, karena sering kali nasehat yang beguna disampaikan melalui nyanyian. Selain itu, Dharmagita merupakan salah satu Sad Dharma. Adapun tujuan mempelajari atau memahami Dharmagita adalah untuk menyebar luaskan atau memasyarakatkan ajaran agama Hindu dan untuk memberikan dorongan kepada kita agar lebih mencintai kebudayaan

Dharmagita merupakan suatu karya seni yang didalamnya banyak mengandung nilai pendidikan seperti tattwa, susila, dan upacara, dalam pupuh sinom, pupuh ginada, pupuh mijil, ginanti, dan pupuh pucung terdapat banyak nilai pendidikan yang dapat dipedomani dalam kehidupan.

Kehidupan masyarakat di Bali tidak bisa terlepas dengan segala bentuk atau ragam kebudayaan yang diwariskan oleh para leluhur sejak jaman dahulu. Ada banyak jenis kebudayaan yang menjadi warisan, seperti: seni rupa (seni ukir), seni suara (sekar alit, sekar madya, sekar agung, sloka, palawakya), seni gerak (tari-tarian), tetabuhan, dan lain sebagainya.

Seni merupakan hasil inspirasi dari buah pikiran dan karya manusia yang memiliki nilai estetika pesan moral yang tinggi. Pesan-pesan yang terkandung didalamnya senantiasa memberikan nilai support bagi kehidupan masyarakat dibali pada khususnya. Senantiasa mengarahkan masyarakat kearah yang lebih baik agar manusia mampu menjalankan pesan dharma dari kehidupan menjadi manusia di dunia ini.

 Seperti yang terkandung dalam geguritan Nitisara atau Nitisastra yang himpun oleh Ketut Repet dan dikeluarkan oleh Widya Sabha Kabupaten Tabanan tahun 1984, sangat jelas dijabarkan bagaimana hakekat kehidupan sebagai manusia di dunia ini. Berikut saya ulas pesan-pesan moral yang terkandung dalam geguritan Nitisastra tersebut, khususnya dalam pupuh Sinom.

 Pupuh Sinom (geguritan Nitisastra).

1.      Wenten jadma sugih arta, nging asih nista binukti, mwang asing nista sinandang, wenten jadma prajnyan malih, nanging malaksana lengit, madaya corah tan surud, adung saba ring wong corah, malih jadma panjang hurip, tutug tuwuh, jantos ipun wredaluhya.

 

2.      Mwastu ipun banget nista, ring dharma sastra tan ajin, ne sandang among manggehang, maka tatiga kawastanin, mawug jadma sane miskin, tan pa guna hidup ipun, tan bina sakadi padang, hidup nyane kanggen mati, matin ipun, wantah nitis kabwatannya.

 

3.      Sajroning paksi bawosang, ne kinucap corah weci, tan lian ipun igowak, ring sajroning buron malih, kledaene kinucap weci, ring sajroning manah lawut, kroda brangti bragedegan, kinucap pawakan weci, rehning ipun, mangicalang kasampuran.

 

4.      Letuhe sane kabawos, ring hajeng tatiga sami, banget kasoran kinucap, ring letuhe sapuniki, jadmane mangepet pati, patin kakasihan ipun, reh kretaghna papannya, tan sida ruwat bresihin, yadiyastun, olih rsi Siwa Buddha.

 

5.      Jun masuwun mbuh toyannya, mayogan ngalencok sahi, yening bek deg-deg toyannya, yen bantenge ngembo sering, asung santer swaranneki, kedik empahannya iku, jadma bocok kwehan raras, jadma jugul bawos jedig, bangras muwuh, samyan tan mangawe suka.

 

6.      Kayogan ipun isinga, rumaksa alas tan mari, kenginan ipun ialas, setata ngemit kesari, yening tan adung sang kalih, pada sebet ngedoh lawut, isinga ninggal ialas, wusan rumaksa mangemit, mwastu lawut, dekdek rusak punang alas.

 

7.      Kalasak ban imanusa, tarunyane telah ledis, isinga amurang lampah, ring pangkung tegale ngesil, mwastu kajaragin raris, isinga kalapu-lapu, reh tan wenten pasayuban, lemet tanpa bayu dadi, ring pamuput, sang kalih manadi rusak.

 

8.      Sajroning dadi manusa, sampunang ja tanpa kanti, sandang utsahayang pisan, makanti ring sang utami, cingakin ja ilelipi, mautsaha nunas tulung, ring Ida Bhatara Ciwa, Wit saking dread subhakti, mwastu lawut, dadi samayut sang Ciwa.

 

Jika kita lihat arti dari ke-delapan bait pupuh sinom diatas, maka isinya adalah bagaimana perbuatan manusia seharusnya di dunia ini. Yang pertanya kita lihat dari bait pertama disampaikan bahwa jika ada orang yang harta bendanya berkecukupan tapi kurang dalam cinta kasihnya, juga kurang dalam perbuatannya, juga jika ada orang yang pintar tapi perbuatannya malas, memiliki perbuatan dengki, bershabat dengan orang tidak baik (jahat), orang yang berumur panjang. Dalam bait ini dijelaskan bagaimana nilai-nilai etika yang terdapat dalam diri manusia yang semestinya dihindari untuk dilakukan oleh setiap orang. Demikian juga dengan dia yang sangat hina, sebenarnya orang-orang yang hidupnya seperti itu adalah orang yang hidupnya tanpa guna, ibarat rumput yang hidup untuk mati, penjelmaannya hanya sebagai keperluan saja. Seperti gentong (berisi air) tidak penuh yang dijunjung, sering kali airnya bercipratan, beda halnya dengan gentong yang airnya penuh, kemungkinan air bercipratan lebih sedikit sebab dia itu seimbang. Ibarat seperti sapi (banteng) yang bersuara sangat sering, suaranya keras tapi perbuatannya sedikit, sama halnya dengan manusia yang banyak tingkah padahal dia sendiri kurang baik, senang memberikan nasehat padahal dia sendiri perlu nasehat tersebut. Semua itu tidak membawa kebahagiaan dalam hidup. Seperti dua persahabatan antara singa dengan hutan, seharusnya mereka saling menjaga, hutang sebagai tempat perlindungnya singa demikian juga singa senantiasa menjaga hutan dari berbagai gangguan, tapi jika keduanya membawa ego masingmasing maka yang ada hanyalah perpecahan, hutan dengan bebas mendapat gangguan, semua pohon-pohonya habis, demikian juga singa yang tak tentu arah jalannya, tidak mendapat tempat berlindung, hingga harus bersembunyi dilembah-lembah, lemas tanpa perlindungan, yang akhirnya keduanya rusak.

Hidup sebagai manusia sangat perlu mempertimbangkan, apa yang diperbuat, filsafat apa yang harus dipakai pedoman dan juga bagaimana melakukan persembahan kepada alam, orang lain, dan Tuhan itu sendiri. Seperti halnya sang ular, ketika mendapat mara bahaya, dengan sangat tulus memohon perlidungan kepada Tuhan (Ciwa) dengan menyerahkan diri sepenuhnya kehadapan Ciwa sampai akhirnya dia diterima menjadi pengikut setianya Ciwa, hal itu yang patut untuk ditiru, mulai dari bagaimana memaknai sebuah kehidupan, apa tujuan hidup didunia ini, bagaimana menjaga etika dalam kehidupan dana apa yang patut untuk dipersembahkan. Kedelapan bait pupu sinom diatas merupakan ajaran tattwa, etika, dan upakara/upacara dalam agama hindu, kedelapan bait pupuh sinom itu menjelaskan dan mengajarkan tri kerangka dasar agama Hindu yang merupakan falsafah hidup didunia ini.

 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar